Aneh, PN Lubukpakam Gelar Sidang Penipuan Malam Hari

Jumat, 25 Oktober 2019 / 11.53
Sidang malam hari yang berlangsung di PN Lubukpakam.
DELISERDANG, KLIKMETRO - Sedikit mencurigakan dan menjadi tanda tanya, kenapa sidang Penipuan dan Penggelapan uang korban Paian Tampubolon sebesar Rp 200 juta, berlangsung malam. Ada apa ya pak Hakim Abraham Ginting dan Ibu Jaksa Penuntut Umum, Nara Palentin Naibaho SH MHum?

Sidang kasus Penipuan dan Penggelapan atas terdakwa Kolam Ginting bersama suaminya, Ramlan Bukit kembali digelar Di Pengadilan Negri Lubuk Pakam, Kamis (23/10/2019) pukul 18. 30 wib. 

Bambang Herman, selaku Kepala Desa Pasar  V Kecamatan Patumbak I, hadir menjadi saksi yang mengatakan bahwa benar dirinya didatangi Kolam Ginting beserta suaminya Ramlan Bukit, yang meminta surat tanah mereka di Pasar V Patumbak. Pasangan suami istri tersebut turut membawa Paian Tampubolon dan dua saksi lainnya. 

"Karena mereka datang menemui saya, ya saya persihlakan masuk. Ternyata ibu itu (Kolam, terdakwa red) meminta kembali surat tanah dirinya seluas 3.5 Ha. Karena saya tak tau, ya saya suruh saja mereka meminta ke Kepala Desa yang lama kalau benar ada, ya pasti ada, " akunya dalam persidangan saat ditanyai JPU, Palentin. 

Saat itu, Bambang sempat melihat bukti transfer yang dibawa korban, Paian Tampubolon. "Paian itu sempat menunjukkan bukti transfer ke saya, katanya mau beli tanah ibu Kolam yang ditanami jambu. Cuma itu saja, karena saya tak mengetahui permasalahan ini kembali saya suruh mereka datangi Kades yang lama, Saptono. Ya cuma itu yang saya tau, " kata Bambang kepada majelis Hakim. 

Karena tak mendapatkan surat tanah yang dijanjikan Kolam, guru SD Negri 101800 Delitua tersebut, disitulah Paian merasa curiga dan akhirnya melaporkan suami istri tersebut ke polisi. "Sudah curiga aku dari situ, tapi begitupun guru sekolah itu berusaha terus meyakinkan ku setelah uang ku transfer secara berangsur ke rekening adik kandungnya, Monika Ginting. Masih ku ingat waktu itu Kolam memohon agar segera memberikannya uang Rp 120 Juta untuk anaknya masuk TNI dengan perjanjian ditukar dengan 1 Ha tanah miliknya. Salahnya aku percaya mulut manisnya itu, tingkah guru PNS kenapa penipu seperti itu ya, bingung aku bang, " beber toke jambu yang sudah dirugikan 271 bibit jambu air super oleh Kolam Ginting. 

Saksi dari PTPN II juga didirikan, Yulizar selaku Asisten Kebun dan Pertanahan, mengetahui kasus ini setelah ada surat panggilan dari pihak kepolisian. "Yang saya ketahui kalau masa pinjam pakai ibu Kolam sudah habis di tahun 2010, artinya mereka itu penanam illegal dan redaksi juga tau hal ini. Tanah tersebut tak berhak mereka perjual belikan, karena masa waktu pakai cuma 9 bulan dalam jangka waktu sekali panen Palawija. Barulah mereka kembali urus surat pinjam pakai lagi, begitu seterusnya karena sewaktu waktu Direksi akan kebaliknya mengambilnya kembali. Belum ada pembebasan lahan di daerah Patumbak itu. Kejadian yang lain saya tidak tau pak Hakim," kata Yulizar. 

Pengakuan yang sama juga dilontarkan Sucipto, tim pengukur BPN Sumut. "Saya juga tau kasus ini dari polisi, setelah dicek dan diukur ternyata lahan tersebut masuk ke HGU PTPN II Patumbak. Saat saya mengukur memang terlihat ada tanaman yang masih kecil," tandasnya. 

Tak lama kuasa hukum terdakwa menunjukkan foto plang ke pada majelis hakim, untuk bisa dilihat ketiga saksi malam itu. Meski sidang sempat terjeda sebentar, ketika JPU menerima telpon ntah dari siapa. 

Untuk sekedar mengingatkan, kasus Penggelapan dan  Penipuan dengan no LP stpl/280/V/2018/SU RES DS ini sudah merugikan Paian Tampubolon sebesar Rp 200 Juta. Uang yang ditransfer ke rekening adik terdakwa bertahap sebanyak 3 kali dengan nominal yang berbeda dan sisanya upah penanam bibit jambu sesuai kesepakatan antara korban dan terdakwa. (yen)
Komentar Anda

Terkini