-->

Tunda Reses dan Sosper Dimasa Pandemi Covid-19, Anggota DPRD Medan Ini Serap Aspirasi Dari Medsos

Selasa, 03 November 2020 / 04.51

Anggota DPRD Medan Dhiyaul Hayati SAg Mpd.

MEDAN, KLIKMETRO - Pandemi virus corona telah mengancam seluruh dunia, khususnya Indonesia. Virus yang ditemukan pertama kali di Wuhan, China, pada 2019 lalu ini sangat cepat menyebar, sehingga pemerintah Indonesia mengimbau masyarakat agar tetap berada di rumah guna menekan pertumbuhan kasus Coronavirus disease 2019 (covid-19).

Situasi inilah yang membuat Dhiyaul Hayati SAg Mpd segera berinisiatiaf mencegah penyebaran covid-19 dengan menunda kegiatan dewan yang bersifat mengumpulkan massa. Padahal selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan periode 2019-2024, seyogyanya dia harus menyerap aspirasi masyarakat dengan menggelar reses dan sosialisasi perda (sosper).

Tapi dua kegiatan itu dihentikan sementara oleh politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini pasca pandemi covid-19 mulai mengguncang Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara pada Maret lalu. 

"Kegiatan reses dan sosper itu melibatkan banyak orang, dan sifatnya mengumpulkan orang banyak atau kerumunan massa, karena kita harus menyerap aspirasi masyarakat. Terakhir saya gelar reses pada Desember 2019 lalu dan sosper di Bulan Februarit lalu. Kegiatan saya hentikan karena tak ingin terjadi penyebaran covid-19 di masyarakat, termasuk menjaga diri saya sendiri,''ujar wanita berhijab ini saat ditemui wartawan di Kantor DPRD Medan, Senin (2/11/2020).

Lalu adakah sanksi yang diterima karena menolak menggelar kegiatan tersebut? ''Tak ada sanksi. Dana untuk kegiatan itu dikembalikan ke negara karena tidak digunakan. Sedangkan dari PKS, partai menyerahkan sepenuhnya kebijakan pada anggota. Bagi yang tetap menggelar reses maupun sosper, diingatkan agar menetapkan protokol kesehatan di setiap kegiatan,''jelas Anggota Komisi II DPRD Medan yang membidangi kesejahteraan masyarakat, pendidikan dan kesehatan ini.

Meski dirinya pribadi menghentikan kegiatan reses dan sosper, namun Dhiyaul tak kehilangan akal agar tetap berinteraksi dengan konstituen maupun masyarakat. Dhiyaul menggunakan media sosial untuk menyerap aspirasi warga. Bahkan dia juga terang-terangan memberikan nomor whatsapp di media sosial agar masyarakat tetap merasakan kedekatan dengan wakil rakyat, meski situasi pandemi covid-19.

"Insya Allah masyarakat yang menyampaikan aspirasi dengan saya, baik itu melalui medsos maupun telepon, langsung saya sampaikan ke pihak berkompeten. Pernah ada ibu-ibu menghubungi saya karena mau melahirkan tapi dia dipersulit pihak rumah sakit, saya langsung menghubungi pihak rumah sakit. Ada juga warga yang menyampaikan keluhan di lingkungannya jalanan rusak dan becek, saya hubungi Kadis PU. Saya kirim foto-foto kondisi jalannya agar segera direspon keluhan warga. Kami ini wakil rakyat yang menyampaikan segala masalah warga kepada pemerintah, dan mengawalnya agar aspirasi warga benar-benar tersampaikan. Walau kondisi pandemi seperti ini, tapi tugas dan fungsi kami sebagai wakilnya rakyat harus tetap berjalan,"ungkap Dhiyaul.

Meski begitu, dia mengakui masih banyak aspirasi warga yang belum terealisasi. Seperti permasalahan jalan rusak, banjir, drainase, Bantuan Langsung Tunai, BPJS dan masih banyak lagi. "Kita terkadang terbentur pada anggaran. Misalnya untuk jalan, perbaikannya dianggarkan tahun depan karena tahun ini sudah ditetapkan lokasi lain. Namun sebisa mungkin kita berupaya agar aspirasi warga benar-benar ditindaklanjuti oleh pemerintah,"ujar istri dari Yusrin SH MHum, Dosen di Fakultas Hukum Tata Negara Universitas Sumatera Utara (USU) ini.

OTG Lebih Berbahaya

Dimasa covid-19, Dhiyaul yang merupakan pemilik sekaligus Kepala Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cinta Kasih ini menonaktifkan kegiatan belajar. Dia menyadari anak-anak rentan terkena wabah covid. Menurutnya, Orang Tanpa Gejala (OTG) lebih berbahaya dan bisa menularkan virus corona dalam jangka waktu singkat.

"Anak-anak rentan tertular penyakit. Gejala COVID-19 pada anak cenderung ringan seperti pilek biasa, demam atau bahkan bisa tanpa gejala. OTG ini yang lebih menguatirkan dan berbahaya karena bisa cepat menularkan pada orang yang sebelumnya tidak terkena covid, tapi memiliki riwayat penyakit penyerta, seperti sakit diabetes, paru-paru. Nah, rata-rata mereka yang memiliki penyakit sebelumnya bila terkena covid bisa mengakibatkan meninggal dunia,"kata wanita kelahiran 2 Mei 1975 ini.

Ibu satu anak ini mengaku memiliki ketakutan terhadap coronavirus. Apalagi dia memiliki penyakit kekentalan darah dan mudah alergi. Karena itu juga, sebisa mungkin dia menghindari kontak fisik dan  menerapkan protokol kesehatan dalam aktifitasnya. Tak heran jika hand sanitizer dan stok masker selalu tersedia di dalam tasnya.

"Maskermu melindungiku, maskerku melindungimu,"kata Dhiyaul seraya tertawa sambil memperbaiki maskernya. Lalu dia mengambil bungkusan masker dari dalam tasnya dan memberikan selembar pada wartawan. "Kita bicara begini, tanpa disadari ludah kita memercik. Karena itu kita harus saling menjaga,''imbaunya. 

Terapkan Protokol Kesehatan

Setelah 6 bulan vakum melakukan kegiatan reses dan sosper, Dhiyaul berencana akan kembali menggelar dua kegiatan tersebut. Dia beralasan saat ini masyarakat sudah mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan banyak yang disiplin mengenakan masker dalam menjalani aktifitasnya di luaran.

"Saya melihat di Medan, jumlah terkonfirmasi covid-19 sudah menurun, banyak yang sembuh. Masyarakat juga sudah banyak yang disiplin pakai masker dan rajin mencuci tangan. Karena itu saya berniat memulai lagi kegiatan dewan dengan menggelar reses dan sosper, rencananya di bulan ini (November),'' ungkap legislator Daerah Pemilihan V yang meliputi Kecamatan Medan Selayang, Sunggal, Polonia, Tuntungan, Maimun dan Medan Johor ini.

Berbeda dengan kegiatan lalu, kali ini kegiatan digelar dengan menerapkan protokol kesehatan dan membaginya di beberapa tempat. "Dalam satu kegiatan harusnya dihadiri 200 warga. Nah kali ini saya bagi jadi 4 tempat di masing-masing kecamatan, peserta yang hadir dibatasi agar masing-masing bisa menjaga jarak. Kita terapkan prokes di acara nanti,''sebutnya.

Dhiyaul menambahkan, sekolah PAUD Cinta Kasih yang didirikannya sejak 2016 lalu, akan kembali beroperasi pada Januari 2021 mendatang. Namun kali ini, siswa dibagi dua dan jam pelajaran dikurangi.

"Siswa PAUD jumlahnya 26 orang, jadi kita bagi dua. Satu kelas cuma 13 anak, waktu belajarnya juga dikurangi. Biasanya dari jam 8 sampai jam 10, nanti kita buat hanya sampai jam 9.30. Dikurangi setengah jam,""katanya seraya menyebutkan, budaya cuci tangan sudah diterapkan pada murid-murid PAUD sebelum virus corona mewabah di Kota Medan. Penggunaan masker yang nantinya akan diterapkan pada anak-anak usia dini ini, sekaligus mengecek suhu tubuh mereka setiap hari dengan menggunakan alat termometer digital.

Untuk diketahui, DPRD Medan bukan hal baru bagi Dhiyaul, jabatan dewan pernah diembannya pada periode 2004-2009. Meski selama 10 tahun tak menjabat dewan, namun Bendahara DPD PKS Kota Medan ini tetap berkontribusi pada masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. 

Penyandang S-2 ini membuka Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cinta Kasih Umi dan menggratiskan biaya bagi kaum duafa. 

"Motivasi saya memberikan kontribusi pada masyarakat, saya juga fokus pada pemberdayaan perempuan,"kata wanita ramah dan murah senyum yang selalu tampil sederhana ini. (maria)

Komentar Anda

Terkini