| Wajah ceria anak-anak kos usai mengikuti vaksinasi tahap kedua di Komplek Cemara Asri sembari menunjukkan kartu vaksin. (Maria/klikmetro) |
MEDAN, KLIKMETRO.COM - Wajah tujuh anak milenial ini tampak ceria saat menceritakan pengalaman vaksinasi corona virus disease 2019 (covid-19) yang sudah mereka jalani, baik vaksinasi tahap pertama maupun kedua. Mereka sesekali tertawa mengingat saat pertama kali mengikuti vaksinasi, dan ada seorang teman yang sempat ketakutan.
"Ini si Wulan sempat ketakutan dia, wajahnya pucat," kata Elvina menunjuk ke arah temannya sembari tertawa mengisahkan pengalaman mereka kepada media ini, Sabtu (6/11/2021).
| Gaya anak kos pasang aksi usai mengikuti vaksinasi covid-19 di Komplek Cemara Asri. (Maria/klikmetro) |
Berawal dari ajakan seorang teman kos yang mengatakan ada vaksinasi massal akan digelar oleh Kodam I/BB dan Yayasan Buddha Tzu Chi Medan di Sekolah Chandra Kumala, Kompleks Cemara Asri Jalan Cemara, Kecamatan Percut Sei Tuan, Provinsi Sumatera Utara, pada 29 September 2021. Anak perantauan yang tinggal satu kos ini sempat ragu mengikuti vaksinasi, karena Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang mereka miliki bukan domisili di Medan maupun Deli Serdang.
Ketujuhnya ngekos di kawasan Jalan Sisingamangaraja, Medan. Masing-masing yakni, Safrida Nasution (24), warga Padang Lawas, Glen Rumahorbo (25), warga Tomok Samosir, Jayanti Wulandari (28), warga Kuala Simpang Aceh Tamiang, Irmawati (28), warga Kuala Simpang Aceh Tamiang, Mutiara (28), warga Banda Aceh, Elvina (30) warga Padang dan Rudi Liyanto (24), warga Medan.
Meski ragu tapi mereka tetap ingin mengikuti vaksinasi. Akhirnya mereka pun ikutan mendaftar vaksinasi dan diterima oleh panitia vaksinasi covid-19.
"Mungkin kalau gak diajak kawan, awak payah dapat vaksin. Soalnya bingung kalau harus vaksin pulang ke kampung. Pekerjaan di sini banyak, repotlah kalau ditinggal,"kata Safrida yang akrab disapa Pida.
Bagaimana pengalaman vaksin pertama?
"Gak ada apa-apa terasa. Cuma sakit sikit aja, habis itu gak terasa apapun. Tak ada pusing, ngantuk, lemas. Bahkan habis vaksin, kami ramai-ramai makan bakso. Setelah itu kami menjalankan aktivitas seperti biasa, gak ada yang aneh lah,"aku mereka.
Kekompakan mereka tak hanya di kos, namun juga dalam aktivitas sehari-hari. Saat kegiatan vaksinasi, mereka saling mengingatkan dan membangunkan di kamar masing-masing. "Si Wulan yang payah bangun, sampai mau jebol pintu kamarnya kami ketuk ketuk,"cerita Pida dibarengi tawa dari teman-temannya.
Sebulan kemudian, tepatnya tanggal 27 Oktober 2021, mereka kembali mengikuti vaksinasi tahap dua di lokasi yang sama. Vaksin yang mereka peroleh jenisnya sama dengan pertama, Sinovac. Lagi-lagi mereka mengaku tak merasakan perubahan apapun setelah menjalani vaksinasi dosis kedua. Bahkan mereka senang setelah mengikuti tahapan vaksinasi I dan II.
"Banggalah kami sudah vaksinasi pertama dan kedua. Tak ada yang aneh-aneh kami rasakan. Tak seperti yang kami baca di medsos, katanya ada yang pingsan, sakit. Kami lihat ratusan orang yang divaksinasi di sana, gak ada kejadian seperti itu,"sambung Elvina yang mengaku jantungnya sempat berdebar kencang melihat jarum suntik. Tapi melihat semangat teman-temannya, ketakutan pun seketika sirna.
Pengalaman vaksinasi ini mereka ceritakan kepada keluarga di kampung sembari mengajak agar jangan takut divaksinasi.
"Kami tahu vaksin ini untuk menjaga imunitas tubuh dari bahaya serangan penyakit yang dibawa virus corona. Bagi para orangtua yang daya tahan tubuhnya sudah lemah, akan sangat berbahaya. Makanya kami sampaikan kepada orangtua, keluarga, saudara di kampung agar ikut vaksinasi. Kenyataannya sampai sekarang, Insya Allah kami baik-baik saja,"kata Pida.
Para generasi milenial yang melek teknologi ini tampaknya sadar betul pentingnya vaksinasi. Akibat sering browsing menjelajah dunia maya, mereka mengetahui bahwa bahaya corona selama ini masih terjadi dan harus selalu diwaspadai karena bisa menyerang siapa saja.
"Meski sudah divaksin, kami tetap jalankan protokol kesehatan terutama memakai masker dan hindari kerumunan. Namun pastinya sekarang ini kami merasa sudah aman, bisa kemana-mana, bisa pulang kampung karena kami sudah memiliki sertifikat vaksin,"imbuh Wulan dengan raut ceria.
Kasus Covid-19 Menurun
Kasus aktif Covid-19 atau pasien yang masih terinfeksi dan menjalani isolasi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) hingga Sabtu (30/10/2021) tersisa 437 orang. Jumlah itu berkurang 17 orang dari hari sebelumnya 454 orang.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang diterima, kasus konfirmasi di Sumut per 30 Oktober bertambah 19 orang, sembuh 11 orang, sedangkan kasus konfirmasi yang meninggal dunia bertambah dua jiwa. Penurunan kasus aktif Covid-19 di Sumut terjadi setelah pasien yang pulih mendominasi dibanding kasus baru dalam beberapa hari terakhir.
Sementara untuk Kota Medan, dikutip dari laporan Satgas COVID-19 Medan sampai 4 November 2021, jumlah terkonfirmasi mencapai 48.152, meninggal dunia 905 kasus, dan sembuh 47.121. Dengan begitu kasus aktif tersisa 126.
Saat ini pencapaian vaksinasi di Kota Medan sudah hampir mendekati target 70 persen guna membentuk herd immunity (kekebalan kelompok). Padahal, awal September lalu, capaian vaksinasi masih berada di kisaran angka 35 persen. Kota Medan yang sebelumnya bersatus level 4 Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), kini turun jadi level 2 dan sudah menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Terkait hal ini, Pelaksana tugas (Plt) Kadis Kesehatan Kota Medan dr Mardohar Tambunan M.Kes mengatakan, turunnya kasus covid-19 karena kesadaran masyarakat sekarang ini sudah semakin tinggi dengan mengubah prilaku mengikuti aturan protokol kesehatan serta melakukan vaksinasi covid-19 untuk meningkatkan imunitas tubuh.
Bahkan saat ini, dua lokasi isolasi terpadu (isoter) Pemko Medan, yakni gedung eks Hotel Soechi dan gedung P4TK sangat minim pasien Covid-19 dengan kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) hingga bergejala ringan yang menjalani isolasi. Meski begitu, Pemko Medan tidak menutup lokasi isoter.
"Sebelum pandemi menjadi endemik, dua lokasi Isoter kita itu tidak akan ditutup,"tegas Mardohar.
Sedangkan pandemi hanya berubah menjadi endemik, kata Mardohar, apabila angka penyebaran Covid-19 berada diangka rata-rata nol kasus selama 28 hari.
Saat ini, lanjut Mardohar, Pemko Medan terus melakukan 3T yakni Tracing, Testing dan Treatment guna menekan angka penyebaran Covid-19 di Kota Medan. Sembari itu, Pemko Medan juga terus meningkatkan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat.
"Kami selalu mengingatkan masyarakat agar mematuhi prokes, meski sudah divaksinasi. Vaksin bukan untuk kebal dari covid, tapi untuk meningkatkan imunitas tubuh agar tidak mudah sakit dari penyakit yang dibawa virus corona. Kami himbau kepada masyarakat, walau sudah divaksin tetaplah menjaga kesehatan dan disiplin prokes. Selalu mengenakan masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas,"pungkasnya. (maria)