Demonstrasi PKL Binjai Ricuh, Gerbang Kantor Wali Kota Dirubuhkan Massa

Senin, 27 April 2026 / 17.36

Gerbang Kantor Wali Kota Binjai rubuh akibat aksi dorong mendorong massa yang berorasi dengan petugas keamanan, Senin (27/4/2026). (ft-ist)

BINJAI, KLIKMETRO.COM - Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Forum Pedagang Kaki Lima (PKL) Kota Binjai menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Binjai, Senin (27/4/2026). Aksi yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut berlangsung ricuh hingga mengakibatkan gerbang utama kantor pemerintahan ambruk.

Massa yang membawa spanduk dan pengeras suara menuntut pertanggungjawaban atas penertiban paksa yang dilakukan Satpol PP di kawasan Jalan Bandung dan Jalan Olahraga. Selain itu, mereka juga menagih janji kampanye Wali Kota yang dianggap belum terealisasi.

Firman, salah seorang pedagang yang terdampak, meluapkan keresahannya. Ia mengaku sudah 25 hari kehilangan mata pencaharian akibat penggusuran tersebut.

“Kami bukan teroris atau pemberontak. Kami siap ditata, tapi tolong beri kami ruang. Sudah 25 hari kami tidak berjualan, bagaimana nasib keluarga kami?” keluhnya.

Ketegangan memuncak saat massa merasa diabaikan karena Wali Kota tak kunjung menemui mereka. Penolakan terhadap perwakilan pemerintah memicu aksi dorong-mendorong dengan petugas keamanan, yang berakhir dengan dirubuhkannya dua pintu gerbang utama. Massa kemudian merangsek masuk dan memadati halaman kantor.

Diketahui, Wali Kota Binjai saat itu tengah berada di luar kota untuk menghadiri acara "Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026" di Palembang. 

Perwakilan massa, Edward Gurki, menegaskan bahwa mereka hanya bersedia berdialog dengan Sekda jika Wali Kota dihadirkan melalui sambungan virtual.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dipimpin Sekda Kota Binjai, Chairin Simanjuntak, Wali Kota akhirnya terhubung melalui telepon. Melalui Kadis Kominfo, Ikhsan, Wali Kota menyampaikan permohonan maaf dan menjanjikan pertemuan langsung pada Rabu mendatang.

Meski telah dimediasi, pertemuan tersebut berakhir buntu (deadlock). Massa tetap teguh pada pendiriannya: menolak relokasi ke Stadion Binjai dan menuntut hak untuk kembali berjualan di lokasi semula. (mar)

Komentar Anda

Terkini