-->

Dua Periode Pimpin Simalungun, 'JR' Tidak Tuntas

Senin, 12 Oktober 2020 / 17.29

Kondisi jalan rusak di Kabupaten Simalungun.

SIMALUNGUN, KLIKMETRO - Program pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari implementasi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat. Jadi, pembangunan tidak lagi terfokus di seputaran ibukota kabupaten saja, melainkan hingga seluruh pelosok pedesaan.

Maka dari itu, kepala daerah dalam hal ini Bupati Simalungun, seyogyanya harus lebih banyak berada di lapangan untuk memastikan infrastruktur jalan yang benar-benar butuh perbaikan maupun pembangunan.

Salah satu alasan pentingnya pembangunan infastruktur berupa jalan dan jembatan menjadi perhatian adalah dengan tujuann supaya dapat menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lain.

Dengan konektivitas antar daerah, diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga untuk memudahkan mobilitas manusia dan barang, serta membuat harga bahan pokok semakin terjangkau.

Hal tersebut dikatakan Ketua NGO TOPAN-AD (Non Government Organization Team Observasi Penggunaan Anggaran Negara dan Anggaran Daerah) Siantar - Simalungun Marnaek Saragih, Senin (12/10/2020) di salah satu warung kopi seputaran kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Simalungun di Pamatang Raya.

Marnaek Saragih menilai, sepuluh tahun memerintah, JR Saragih selaku Bupati Simalungun gagal dalam pembenahan maupun pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Kabupaten Simalungun. Jalan rusak atau yang sering disingkat orang dengan sebutan "JR" masih banyak dijumpai pada seluruh kecamatan se Kabupaten Simalungun.

"Dua periode memimpin Kabupaten Simalungun, JR Saragih belum bisa menuntaskan JR (jalan rusak-red) di Simalungun," ujar Marnaek Saragih.

Alasan luasnya wilayah dan keterbatasan anggaran yang selalu dikatakan Pemkab Simalungun melalui Kepala Dinas PUPR, menurut Marnaek Saragih hanya merupakan tameng ketidakmampuan dalam perencanaan dan penempatan anggaran pemeliharaan maupun pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Kabupaten Simalungun.

"Sebenarnya masyarakat tidak menuntut jalan ke Nagori (Desa-red) harus hotmix, namun lebih kepada kelayakan jalan tersebut untuk kenyamanan dalam berkendara," ujarnya.

Seharusnya, dengan keterbatasan anggaran untuk wilayah yang lumayan luas, pihak PUPR Kabupaten Simalungun harus lebih fokus pada kegiatan pemeliharaan jalan dibanding pembangunan maupun peningkatan jalan yang nota bene lebih banyak menelan anggaran. Sehingga kondisi dengan sebutan "JR" tersebut dapat dituntaskan hingga pelosok se Kabupaten Simalungun. (TP)

Komentar Anda

Terkini