![]() |
| Komisi I DPRD Batubara menggelar RDP terkait polemik pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di atas lapangan sepak bola Desa Gunung Rante, Kecamatan Talawi, Batubara. (foto : istimewa) |
BATUBARA, KLIKMETRO.COM - Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Desa Gunung Rante, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, menuai polemik panjang. Persoalan ini akhirnya bergulir ke meja Komisi I DPRD Kabupaten Batu Bara setelah mendapatkan penolakan keras dari sejumlah warga.
Warga keberatan lantaran proyek KDMP tersebut didirikan di atas lapangan sepak bola desa. Mereka menilai pembangunan tersebut akan merusak fungsi fasilitas sosial yang selama ini digunakan sebagai sarana olahraga bagi masyarakat setempat.
Menanggapi hal itu, Ketua Komisi I DPRD Batu Bara, Darius, menyatakan bahwa pihaknya telah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Selasa (7/4/2026). Namun, hingga saat ini DPRD belum mengeluarkan keputusan final.
“Rapat hari ini kita hanya mendengarkan tanggapan dari sejumlah pihak. Setelah ini, kami akan membahas lebih lanjut dan menjadwalkan peninjauan langsung ke lapangan,” ujar Darius.
Silang Sengketa Sejarah Lahan
Dalam rapat tersebut, perbedaan pendapat mengenai asal-usul lahan mencuat tajam. Kepala Desa Gunung Rante, TP Manurung, mengklaim bahwa lapangan tersebut merupakan hibah dari keluarga Siallagan pada tahun 1960-an. Ia juga menyebut aktivitas olahraga di lokasi tersebut sudah vakum sejak tahun 1993.
“Kami sudah tiga kali melakukan musyawarah dengan masyarakat di tiap dusun. Kami kesulitan mencari lahan lain untuk mendukung program pemerintah ini (KDMP). Saya heran kenapa sekarang baru dipersoalkan,” kata TP Manurung.
Pernyataan tersebut dibantah oleh tokoh masyarakat sekaligus pelaku sejarah, Kasianus Purba (84). Ia memaparkan bahwa lahan seluas 20 rante tersebut dibeli secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 1970 seharga dua kaleng beras per rante.
“Masyarakat iuran untuk membeli lahan ini dari keluarga Siallagan dan Sitio agar punya tempat upacara dan olahraga. Jadi, ini bukan sekadar hibah kosong, tapi ada keringat masyarakat di situ,” tegas Purba.
Sempat Ricuh
Situasi sempat memanas sebelum RDP dimulai. Pantauan di lokasi menunjukkan adanya perdebatan sengit hingga kericuhan kecil antara warga dan Kepala Desa di depan Gedung DPRD Batu Bara. Masyarakat tetap bersikeras agar lapangan bola tersebut dikembalikan fungsinya sebagai fasilitas umum dan bukan untuk bangunan koperasi.
DPRD Batu Bara berjanji akan mengutamakan musyawarah desa dalam mencari solusi terbaik agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan hak warga atas fasilitas publik. (dani)
