![]() |
| Anggota DPRD Kota Medan Fraksi PKS Hj. Sri Rezeki AMd saat melaksanakan kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Jalan Bromo, Medan, Minggu (12/7/2026). (foto : istimewa) |
MEDAN, KLIKMETRO.COM - Anggota DPRD Kota Medan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hj. Sri Rezeki AMd, menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, Minggu (12/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di dua lokasi, yakni Jalan Bromo dan Jalan AH Nasution (Asrama Haji) Medan ini, menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur bangsa di tengah tantangan zaman.
![]() |
| Ratusan warga menghadiri kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan Anggota DPRD Medan Fraksi PKS Hj Sri Rezeki AMd, Minggu (12/7/2026). (foto : istimewa) |
Dalam pemaparannya, Sri Rezeki mengungkapkan keprihatinannya terhadap penurunan sopan santun (attitude) anak-anak zaman sekarang, baik kepada orang tua, guru, maupun lingkungan sekitar. Ia menegaskan bahwa pemahaman wawasan kebangsaan harus diperkuat kembali melalui empat pilar utama: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
"Empat pilar ini adalah pondasi kita. Kota Medan ini sangat heterogen, dihuni oleh beragam suku mulai dari Batak, Jawa, Melayu, Tionghoa, Minang, hingga Mandailing. Sejak dulu kita terbiasa hidup damai, kompak, dan saling membantu tanpa melihat latar belakang. Perbedaan agama dan budaya tidak pernah menjadi masalah," ujar Sri Rezeki.
Selain membahas kerukunan, Sri Rezeki juga menyoroti masalah sosial seperti program Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan bantuan lanjut usia (lansia) yang terkadang sulit diperoleh karena kendala administratif dan birokrasi yang rumit. Menurutnya, sistem penargetan bantuan sosial yang menggunakan kategori desil berbasis data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) menimbulkan ketidakdilan.
"Sistem ini terkadang menciptakan ketidakadilan karena banyak lansia yang hidup kekurangan justru masuk dalam Desil 5 ke atas (kategori mampu). Akibatnya, mereka otomatis tercoret dari kepesertaan PKH Lansia atau bantuan daerah," jelasnya dihadapan ratusan warga yang hadir.
Meski begitu, legislator Dapil IV ini mengajak warga untuk tidak kehilangan harapan dan tetap percaya pada kemajuan negeri.
"Ayo gerakan cintai negeri ini. Kita sama-sama kawal anak-anak kita untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik. Seharusnya seperti dulu, anak-anak sekolah hafal lagu-lagu kebangsaan, memahami isi Pancasila, serta mengimplementasikan butir-butirnya dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Solusi Pola Asuh dan Literasi Digital
Kegiatan ini juga menjadi wadah dialog interaktif bagi warga. Arfa, seorang warga dari Kecamatan Medan Denai, mengeluhkan tantangan mendidik remaja masa kini yang lebih sering menghabiskan waktu bermain game dan keluyuran.
Menanggapi hal tersebut, Sri Rezeki menekankan pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama. "Kuncinya ada pada pola asuh yang baik. Kita sebagai orang tua harus menciptakan suasana rumah yang nyaman bagi anak. Berikan mereka cinta, selalu bertutur kata yang baik, dan jangan putus mendoakan mereka," jawabnya.
Sementara itu, menjawab pertanyaan Tika dari Medan Area terkait ancaman hoaks pada Generasi Z, politisi PKS ini menekankan pentingnya literasi digital sebagai modal berpikir kritis.
Menurutnya, literasi digital adalah perisai utama melawan hoaks karena mampu membangun kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi palsu. "Jangan cepat mengeshare berita yang belum jelas kebenarannya. Cari tahu dulu sumbernya," tukasnya.
Di akhir acara, Sri Rezeki membagikan tiga tips praktis untuk memeriksa kebenaran informasi kepada warga:
- Jangan langsung percaya pada informasi yang diterima.
- Cari dan bandingkan berita yang sama di portal berita resmi yang terpercaya.
- Gunakan situs resmi pemerintah atau lembaga pemeriksa fakta untuk memastikan kebenarannya.
Sebelumnya, kegiatan yang dikemas interaktif ini diawali dengan doa bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan guna membangkitkan kembali semangat nasionalisme serta menghargai jasa para pahlawan. (mar)

