Riset USU Ungkap Potensi Daun Bosi-Bosi Tarutung: Dari Pengobatan Tradisional hingga Antikanker Payudara

Selasa, 29 September 2026 / 19.00

Peneliti Departemen Biologi Farmasi Fakultas Farmasi USU, Muhammad Fauzan Lubis, M.Farm., Apt.(ft-humas)

MEDAN, KLIKMETRO.COM - Daun Bosi-bosi (Timonius flavescens), tanaman liar yang tumbuh subur di kawasan perbukitan Tarutung, Tapanuli Utara, selama ini dikenal masyarakat secara turun-temurun sebagai obat tradisional untuk meredakan nyeri hingga mengatasi diabetes mellitus.

Kini, tradisi pengobatan leluhur tersebut naik kelas melalui sentuhan sains modern. Tim periset dari Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil mengungkap potensi ilmiah daun Bosi-bosi, mulai dari penerapan teknologi ekstraksi ramah lingkungan hingga pengujian awalnya sebagai agen antikanker payudara.

Penelitian yang dimulai sejak 2023 ini dipimpin oleh dosen sekaligus peneliti Departemen Biologi Farmasi Fakultas Farmasi USU, Muhammad Fauzan Lubis, M.Farm., Apt. Proyek riset ini didanai melalui skema EQUITY Project LPDP yang dikelola USU, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

"Tanaman yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah Timonius flavescens dari famili Rubiaceae. Berdasarkan studi literatur, para peneliti yang mengeksplorasi tanaman ini rata-rata berasal dari Sumatera Utara. Sebagai akademisi yang berfokus pada biologi farmasi, ada keinginan kuat untuk mengeksplorasi tanaman khas daerah sendiri, salah satunya eksplorasi terhadap kanker," tutur Fauzan saat dihubungi, Selasa (29/9/2026).

Ekstraksi Hijau dengan Teknologi Modern

Berbeda dari kebiasaan masyarakat yang mengolah daun Bosi-bosi dengan cara direbus sederhana menggunakan air, tim peneliti USU menerapkan pendekatan sains modern yang sejalan dengan prinsip green chemistry (kimia hijau).

Mereka menggunakan metode Natural Deep Eutectic Solvent (NADES) yang dikombinasikan dengan teknologi gelombang ultrasonik atau Ultrasound-Assisted Extraction (UAE). Komposisi pelarutnya dioptimalkan menggunakan metode statistik Central Composite Design (CCD) berbasis Response Surface Methodology (RSM).

"Kami tidak menggunakan metode rebusan seperti masyarakat. Melalui formulasi pelarut NADES yang tepat, senyawa polifenol dan flavonoid di dalam daun dapat ditarik secara jauh lebih optimal tanpa bergantung pada pelarut organik konvensional yang kurang ramah lingkungan," jelas Fauzan.

Karakterisasi ekstrak menggunakan instrumen Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Transmission Electron Microscope (TEM) juga mengonfirmasi adanya interaksi ikatan hidrogen serta pembentukan struktur sferis yang stabil pada sistem ekstrak tersebut.

Temukan 13 Senyawa Bioaktif dan Potensi Antikanker

Melalui analisis menggunakan Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS) dengan fasilitasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tim berhasil mengidentifikasi 13 senyawa bioaktif utama di dalam ekstrak daun Bosi-bosi.

Ekstrak tersebut menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat tinggi. Pada konsentrasi 500 \mug/mL, aktivitas penghambatan radikal bebas DPPH bahkan mencapai 89,32 persen.

Lebih lanjut, pengujian sitotoksisitas in vitro menggunakan metode MTT assay pada tiga lini sel kanker payudara menunjukkan adanya mekanisme penghambatan pertumbuhan sel kanker yang signifikan. Berdasarkan analisis flow cytometry dan penanda imunositokimia, ekstrak ini bekerja melalui dua jalur utama:

 - Penghentian Siklus Sel (Cell Cycle Arrest): Terjadi penurunan ekspresi protein cyclin D1 (downregulation) yang menahan laju pembelahan sel kanker pada fase G0-G1.

 - Induksi Apoptosis: Terjadi peningkatan ekspresi protein p53 (upregulation) yang memicu sel kanker untuk mengalami kematian secara terprogram (early dan late apoptosis).

"Penurunan ekspresi cyclin D1 menahan laju pembelahan sel tumor, sementara peningkatan p53 memicu sel kanker untuk mati secara terprogram. Kombinasi inilah yang membuat ekstrak daun Bosi-bosi berpotensi dikembangkan sebagai terapi pendamping antikanker," ungkapnya.

Kendati demikian, tim peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih merupakan bukti awal (preliminary study) berbasis sel di laboratorium. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan mekanisme kerja, efektivitas, dosis, dan keamanannya sebelum dapat diuji pada manusia.

Kolaborasi Lintas Institusi dan Uji Keamanan

Keberhasilan riset ini tidak lepas dari kolaborasi lintas disiplin ilmu melibatkan peneliti dari berbagai perguruan tinggi terkemuka. Tim ini melibatkan pakar kultur sel dan antikanker dari Fakultas Farmasi UGM Dr. Retno Murwanti, M.Sc., Apt.; pakar antikanker Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, M.Si., Apt. (USU); pakar formulasi Prof. Dr. Sumaiyah, M.Si., Apt. (USU); hingga pakar histologi dan toksikologi dr. Lokot Donna Lubis, Sp.PA (FK USU).

Dukungan riset juga datang dari Institut Kesehatan Helvetia Medan, ISTN Jakarta, Universitas Vokasi USU, serta Fakultas Keperawatan USU. Rangkaian hasil penelitian gemilang ini bahkan telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi, Advances in Traditional Medicine yang diterbitkan oleh Springer.

Dari aspek keamanan, tim telah melakukan uji toksisitas akut in vivo pada hewan uji mencit berdasarkan OECD Guideline 420 dengan dosis hingga 5.000 mg/kg berat badan. Hasil pengamatan selama 14 hari menunjukkan tidak adanya gejala toksik, kematian, maupun kelainan pada parameter fungsi hati, ginjal, serta struktur histopatologi organ vital.

Meski demikian, sebelum melangkah ke tahap hilirisasi dan produksi produk fitofarmaka, Fauzan menyatakan bahwa pihaknya masih harus melewati tahapan standardisasi formula serta uji toksisitas subkronis lanjutan.

"Harapan besar kami di tim riset, pengujian Bosi-bosi bisa terus berjalan hingga nantinya menghasilkan produk fitofarmaka atau terapi pendamping antikanker yang aman, teruji secara sains, dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas," tutup Fauzan. (ver)

Komentar Anda

Terkini