Dialog Kota Tangguh APEKSI Bahas Ketahanan Pangan, Rico Waas Tekankan Kolaborasi Hadapi Bencana

Rabu, 01 Juli 2026 / 20.12

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap dan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq saat Dialog Kota Tangguh dalam rangka Rapat Kerja APEKSI XVIII, Rabu (1/7/2026) di Grand City Hall, Medan. (Foto : Dinas Kominfo Medan)

MEDAN, KLIKMETRO.COM - Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pentingnya membangun kota yang tangguh melalui kolaborasi antardaerah, kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta penguatan sistem ketahanan pangan. 

Hal itu disampaikannya dalam ucapan selamat datang kepada peserta Dialog Kota Tangguh dalam rangka Rapat Kerja APEKSI XVIII, Rabu (1/7/2026) di Grand City Hall. 

Dialog tersebut menghadirkan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq sebagai keynote speaker. Turut hadir Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap, para wali kota dari berbagai daerah di Indonesia, Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Pendudukan Kemenko PMK Woro Sri Astuti Sulistyaningsih, serta Asisten Deputi Kerawanan Pangan dan Bantuan Pangan Kemenko Bidang Pangan Muhammad Saleh Nugrahadi.

Dalam sambutannya, Rico Waas menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir di Kota Medan. Ia memperkenalkan keberagaman budaya Sumatera Utara melalui sapaan khas seperti Horas, Mejuah-juah, Ya'ahowu, Ahoi, hingga Oii Dunsanak sebagai cerminan kekayaan budaya Kota Medan.

Rico Waas mengatakan, tema "Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat" diangkat berdasarkan pengalaman nyata saat banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Kota Medan, pada akhir November tahun lalu.

"Di Kota Medan, dari 21 kecamatan, sebanyak 19 kecamatan terdampak banjir. Bahkan volume sampah yang biasanya sekitar 1.500 hingga 1.700 ton per hari melonjak menjadi sekitar 6.500 ton hanya dalam satu hari," ujarnya.

Menurut Rico Waas, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa dampak bencana tidak berhenti ketika banjir surut. Pemerintah daerah juga harus mampu mengantisipasi dampak lanjutan terhadap pelayanan publik, perekonomian, hingga kondisi fiskal daerah.

Ia juga menyoroti pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian dari strategi pemulihan pascabencana. Sebagai kota yang bukan berbasis pertanian, Medan bergantung pada kelancaran distribusi pangan dari daerah lain. Saat banjir melanda, Pemerintah Kota Medan bersama berbagai pihak berhasil menyalurkan sekitar 163 ton beras kepada 25.000 kepala keluarga terdampak.

Karena itu, Rico Waas mendorong terbangunnya kolaborasi yang semakin kuat antara kota-kota konsumen dengan daerah produsen agar rantai pasok pangan tetap terjaga dalam situasi darurat. Selain itu, masyarakat perkotaan juga didorong mengembangkan kemandirian pangan melalui pemanfaatan pekarangan rumah maupun budidaya hidroponik.

Sebagai keynote speaker, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama dalam membangun kota yang tangguh. Menurutnya, forum Komwil I APEKSI menjadi momentum penting bagi 98 pemerintah kota untuk memperkuat kerja sama dan menyusun rekomendasi menuju kota yang tangguh dari berbagai aspek, mulai dari kebencanaan, fiskal, sosial, hingga pangan.

Hanif mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 60,02 persen atau sekitar 173 juta penduduk Indonesia kini tinggal dan mencari nafkah di kawasan perkotaan. Kondisi tersebut membuat pemerintah kota menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam menjamin kebutuhan masyarakat.

"Kota tidak lagi hanya menjadi tempat menerima pasokan, tetapi telah menjadi pusat konsumsi, perdagangan, logistik, dan pengambilan keputusan ekonomi. Karena itu, kota yang tangguh harus memiliki sistem pangan yang terintegrasi," ujarnya.

Ia menjelaskan, sistem tersebut mencakup kepastian ketersediaan pangan, distribusi yang lancar, stabilisasi harga, jaminan mutu dan keamanan pangan, penguatan cadangan pangan daerah, serta kemampuan pemerintah daerah merespons gejolak secara cepat dan terkoordinasi.

Hanif mengingatkan bahwa perubahan iklim telah menghadirkan pola cuaca ekstrem yang berdampak langsung terhadap distribusi pangan. Ia mencontohkan banjir besar yang melanda Sumatera bagian utara pada akhir tahun lalu, termasuk kawasan sentra produksi pertanian di Sidikalang, akibat curah hujan ekstrem mencapai sekitar 250 milimeter selama tiga hingga empat hari berturut-turut.

"Kalau pasokan terganggu, harga akan naik. Ketika harga naik, daya beli masyarakat menurun. Pada akhirnya stabilitas sosial dan ekonomi kota ikut terdampak. Kota yang pangan dan logistiknya rapuh akan sulit menjadi kota yang tangguh," tegasnya.

Hanif juga menyampaikan, saat ini masih terdapat 81 kabupaten/kota di Indonesia yang masuk kategori rawan pangan. Sementara Kota Medan berada pada kategori tahan pangan, namun masih perlu ditingkatkan agar mencapai kategori sangat tahan pangan.

Untuk itu, ia mengajak seluruh kepala daerah membangun ekosistem pangan yang terintegrasi melalui penguatan tata kelola kelembagaan, dukungan pembiayaan, infrastruktur dan logistik, kepastian produksi dan pasokan, stabilisasi harga, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Melalui Dialog Kota Tangguh ini diharapkan lahir rekomendasi dan kolaborasi antarkota yang mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta mewujudkan kota-kota yang semakin tangguh di masa mendatang. (mar)

Komentar Anda

Terkini