Jeritan Petani di Tapteng: Sawah Hancur Tertimbun Batu, Bantuan Tak Kunjung Datang

Rabu, 26 Agustus 2026 / 19.55

Puluhan hektare lahan persawahan di Desa Anggoli Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara luluh lantak akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi akhir November 2025 lalu. (ft-ist)

TAPTENG, KLIKMETRO.COM - Sekitar 60 hektare lahan persawahan di Desa Anggoli, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, hingga kini masih telantar dan belum diperbaiki. Kondisi ini merupakan dampak dari bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang kawasan tersebut pada akhir November 2025 lalu.

Bencana tersebut memporak-porandakan tanaman padi yang saat itu baru berumur 50 hari. Hingga memasuki bulan kesembilan pascabencana, areal persawahan yang menjadi urat nadi perekonomian warga desa itu urung mendapat penanganan.

Ketua Kelompok Tani Saba Julu Desa Anggoli, Hamdan Silalahi, mengungkapkan bahwa banjir bandang telah mengubah topografi kawasan pertanian mereka secara drastis. Aliran sungai yang semula menjadi sumber pengairan kini justru berpindah dan mengalir di atas lahan persawahan warga.

"Lahan persawahan dan irigasinya hancur. Sebagian lahan sudah tertutup bebatuan, dan aliran sungai juga berpindah ke areal persawahan," kata Hamdan, Selasa (25/8/2026).

Menurut Hamdan, seluruh tanaman padi milik petani rusak total akibat tertimbun material pasir dan batuan besar. Akibatnya, para petani harus menelan kerugian yang sangat besar akibat gagal panen massal.

Warga mengaku kecewa karena hingga saat ini belum ada bantuan nyata dari pemerintah untuk memulihkan kondisi fisik lahan maupun jaringan irigasi. Saat ini, para petani hanya bisa pasrah melihat sawah mereka yang berubah wujud menjadi aliran sungai dan hamparan batu.

"Yang paling kami butuhkan adalah perbaikan lahan sawah dan irigasi, termasuk mengembalikan aliran sungai ke jalur semula," tegas Hamdan.

Ia menambahkan, perbaikan infrastruktur seperti bendungan dan jaringan irigasi yang rusak total tidak mungkin dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Diperlukan pengerahan alat berat dan anggaran yang besar untuk menormalisasi kawasan tersebut.

Warga Desa Anggoli sangat menggantungkan hidup dari hasil bumi ini. Mereka berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan pemulihan, agar lahan tersebut dapat kembali digarap.

"Harapan kami segera diperbaiki dan dikembalikan seperti semula," pungkasnya. (med24)

Komentar Anda

Terkini