Peringatan Hari Ulos Nasional Meriahkan Puncak MFCF 2026, Rico Waas Harap Tenun Lokal Mendunia

Sabtu, 17 Oktober 2026 / 21.42

Perayaan Hari Ulos Nasional memeriahkan puncak Medan Fashion Culture Festival (MFCF) 2026 bertema Ulos in Innovation di Atrium Sun Plaza Medan, Sabtu (17/10/26). (Foto : Dinas Kominfo Medan)

MEDAN, KLIKMETRO.COM - Perayaan Hari Ulos Nasional memeriahkan puncak Medan Fashion Culture Festival (MFCF) 2026 bertema Ulos in Innovation di Atrium Sun Plaza Medan, Sabtu (17/10/26). Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan warisan budaya, tetapi juga langkah untuk mendorong produk fashion dan kriya lokal Kota Medan menembus pasar nasional hingga internasional.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Medan Ny. Airin Rico Waas menegaskan, pengembangan industri fashion berbasis budaya harus diikuti penguatan ekosistem usaha, peningkatan kualitas produk, pembinaan desainer, serta perluasan akses pasar agar karya pengrajin dan pelaku UMKM lokal semakin dikenal dunia.

Rico Waas mengatakan, MFCF menjadi salah satu upaya mengembangkan potensi kriya Nusantara yang diproduksi para pengrajin, desainer, dan pelaku UMKM Kota Medan. Menurutnya, produk lokal memiliki nilai seni dan sejarah yang tinggi sehingga perlu diperkenalkan lebih luas, sekaligus menjadi sumber kebanggaan masyarakat.

“Target kita adalah bagaimana mengembangkan kriya Nusantara yang diproduksi dari Kota Medan. Banyak desainer dan UMKM kita memiliki karya kreatif dengan nilai sejarah puluhan hingga ratusan tahun. Karya-karya bernilai tinggi ini perlu diketahui masyarakat luas agar mereka bangga, sekaligus membawa pesan ke kancah global bahwa produk berkualitas tinggi ini datang dari Indonesia,” ujar Rico Waas.

Rico Waas menegaskan, perjuangan memajukan kebudayaan membutuhkan daya saing dan pembinaan menyeluruh. Pengembangan industri kriya tidak cukup hanya berfokus pada desainer dan penjahit, tetapi juga harus menyentuh pengrajin, penjual, strategi promosi, hingga upaya pewarisan budaya kepada generasi berikutnya.

Untuk memperluas akses pasar, lanjut Rico Waas, Pemko Medan menyiapkan strategi pembinaan berkelanjutan, peningkatan kualitas produk melalui pelatihan, serta kolaborasi dalam berbagai pameran di luar daerah. Pemanfaatan jejaring kerja sama sister city dengan sejumlah negara juga direncanakan menjadi salah satu jalur untuk memperkenalkan produk UMKM Medan ke pasar internasional.

Bagi Rico Waas, pengembangan pasar harus berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas budaya. Ia berharap masyarakat semakin terbiasa mengenakan Ulos dan produk tenun lokal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui desain busana modern yang tetap menghormati nilai tradisional.

“Tak kenal maka tak sayang. Kalau kita sudah mengenal akar budaya dan sejarah Ulos, tentu kita akan semakin mencintainya,” ungkap Rico Waas 

Menurut Rico, Ulos memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Batak, mulai dari kelahiran, kebahagiaan, hingga pernikahan. Karena itu, pelestarian Ulos tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui penggunaan, pengembangan, dan pewarisan secara berkelanjutan.

Rico Waas berharap MFCF 2026 memberikan dampak nyata bagi masyarakat Kota Medan, sekaligus membuka jalan bagi tenun tradisional untuk semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Medan Ny. Airin Rico Waas mengatakan, MFCF 2026 dirancang dengan pendekatan berbeda melalui kolaborasi lintas daerah yang mempertemukan desainer, stylist, narasumber, dan pelaku industri kreatif dari Medan maupun Jakarta.

Pertukaran pengalaman melalui talkshow dan peragaan busana diharapkan dapat memperluas wawasan desainer lokal, meningkatkan kualitas karya, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

“Melalui kolaborasi ini, para desainer dan pelaku industri kreatif di Medan dapat saling berbagi pengalaman dan memperoleh inspirasi baru. Visi kami dalam lima tahun ke depan adalah membawa ekosistem fashion Kota Medan tidak hanya berkiprah di tingkat nasional, tetapi juga menembus panggung internasional,” tutur Airin.

Menurut Airin,  kemajuan industri fashion berbasis budaya tidak hanya ditentukan oleh kreativitas perancang busana, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan seluruh elemen pendukung, mulai dari pengrajin wastra, pembuat aksesori, pelaku UMKM, hingga jaringan pemasaran.

Airin menilai perkembangan industri fashion lokal dapat memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat. Ketika semakin banyak orang mengenakan wastra Nusantara, peluang pasar bagi pengrajin Ulos, Tenun Melayu, Uis Karo, serta pelaku usaha pendukung seperti pengrajin tas dan aksesori lokal juga berpotensi meningkat.

Karena itu, lanjut Airin, Dekranasda Kota Medan berupaya membuka ruang promosi yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal. Salah satunya melalui stan Dekranasda dalam MFCF 2026 yang menampilkan beragam produk, mulai dari busana, tas, aksesori, kerajinan tangan, hingga kuliner. Produk wastra dari Bhayangkari juga turut meramaikan pameran tersebut.

MFCF yang berlangsung sejak 13 - 18Oktober 2026 itu turut menghadirkan parade busana, fashion show, tarian etnik Batak, diskusi mengenai fashion dan wastra, serta penampilan pelajar dan alumni sekolah desain mode. Keterlibatan desainer muda menjadi bagian dari upaya menyiapkan regenerasi sekaligus memberikan kesempatan bagi talenta lokal untuk menunjukkan karya mereka.

Airin menegaskan, peringatan Hari Ulos Nasional menjadi momentum untuk mengingat bahwa Ulos bukan sekadar kain yang memiliki keindahan visual, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai kasih sayang, doa, dan filosofi kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Ia berharap inovasi dalam industri fashion tetap berlandaskan penghormatan terhadap makna dan nilai budaya. Dengan demikian, tradisi dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Sebagai kota dengan keberagaman etnis, Medan memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi fondasi pengembangan industri kreatif. Selain Ulos, Airin berharap wastra lain, seperti Uis Karo dan Tenun Melayu, juga mendapat ruang untuk diperkenalkan melalui kegiatan serupa.

“Tradisi dan modernitas bisa berjalan bersama. Namun, setiap inovasi harus tetap menghormati makna, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ucap Airin.

Melalui MFCF 2026 bertema Ulos in Innovation, Pemko Medan dan Dekranasda berharap pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi kreatif. Penguatan pembinaan, peningkatan kualitas produk, promosi, serta kolaborasi lintas sektor diharapkan membuka peluang lebih besar bagi pengrajin dan pelaku UMKM untuk meningkatkan kesejahteraan.

Selanjutnya, Rico Waas bersama Airin menyerahkan cenderamata kepada desainer Edward Hutabarat dan Torang Sitorus. Tidak hanya itu, Puncak MFCF 2026 ini diisi dengan Talk show yang menghadirkan narasumber Edward Hutabarat dan Torang Sitorus. (mar)

Komentar Anda

Terkini