-->

Ketua DPRD Medan Ingatkan UNHCR Segera Proses Para Imigran, Jangan Pilih Kasih

Jumat, 06 Agustus 2021 / 14.17

Ketua DPRD Medan Hasyim SE.

MEDAN, KLIKMETRO.COM  –  Terkait persoalan imigran yang sudah tinggal hingga belasan tahun di Kota Medan dan hingga kini belum ada kejelasan dari United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR), untuk diberangkatkan ke negara pilihan mereka. Bahkan sampai ada imigran yang bunuh diri karena stres selama tinggal di pengungsian.

Ketua DPRD Medan Hasyim SE angkat bicara mengenai persoalan ini. Menurutnya, pihak UNHCR tak boleh lepas tangan, karena merupakan tanggung jawab mereka. 
 
“Masalah imigran ini merupakan tanggung jawab UNHCR tidak boleh lepas tangan dan harus konsisten terhadap penanganan masalah pengungsi dari Irak ini. Itu menjadi tanggung jawab penuh dari UNHCR. Jadi, tidak boleh ada alasan apapun dari mereka (UNHCR-red), jangan melepas tanggung jawab tersebut,” kata Hasyim SE seperti dikutip, Jumat (6/8/2021).

Untuk itu, Hasyim meminta, agar UNHCR bertanggungjawab. Sehingga tidak ada lagi kabar adanya pengungsi yang bunuh diri, diduga stres karena tidak mendapatkan proses.

"Jangan ada pilih kasih menangani imigran, UNHCR harus proses permasalahan yang dialami imigran. Kita himbau UNHCR dengan kewajiban dan kewenangan mereka itu harus sepenuhnya memberikan perhatian yang lebih baik lagi kepada pengungsi, khususnya dari Irak tersebut,” tegas Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Medan ini.

Sebagaimana diketahui, hingga saat ini masih banyak ‘refugees’ (pengungsi) yang menanti kejelasan dari UNHCR untuk diberangkatkan ke negara pilihan mereka, agar dapat bekerja untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak lagi.

Hasil pantauan awak media, sejak bulan Juni hingga Juli 2021, tak sedikit imigran yang mengaku jika ada yang diberi janji saja tanpa adanya proses. Hal itu terjadi sebelum datangnya pandemi Covid-19 dan terkesan pilih kasih dalam menangani para imigran.

Seperti yang dialami pengungsi bernama Aqila (57), asal Irak.  Sudah 6 tahun dia tidak mendapatkan proses dan akhirnya mengalami sakit diabetes (kadar gula tinggi) akibat stres di tempat pengungsian.
Wanita paruh baya itu mengaku kepada sejumlah wartawan, bahwa dirinya lelah menjalani penantian panjang dan tidak mendapatkan proses yang jelas.

“Aku lelah, setiap hari aku harus mendapatkan suntikan insulin, sehari tiga kali suntikan. Disini kami tidak bisa kerja. Anak-anak kami juga tidak mendapatkan pendidikan. Setiap bulan kami hanya dapat subsidi Rp.1.250.000 dari IOM. Tapi, itu tidak cukup untuk biaya hidup kami untuk sebulan. Pak Presiden Jokowi, tolong kami,”ujarnya berharap.

Sebelumnya, depresi dialami Qasem Musa (30). Pengungsi asal Afghanistan ini mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) pada 20 Oktober 2020 lalu.(dtn/mr)

Komentar Anda

Terkini