Mencekam! Konflik Lahan Membara di Sergai, 27 Motor dan 1 Truk Fuso Hangus Dibakar Massa

Sabtu, 27 Juni 2026 / 02.50

Bentrok di Dusun VII, Desa Tinokkah, Kecamatan Sipispis, Serdang Bedagai pada Kamis (25/6/2026) mengakibatkan puluhan kendaraan hangus dibakar, dan sejumlah orang terluka. (ft-ist) 

SERGAI, KLIKMETRO.COM - Ketegangan hebat melanda Dusun VII, Desa Tinokkah, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) pada Kamis (25/6/2026). 

Bentrokan berdarah pecah antara puluhan warga yang mengatasnamakan Kerajaan Nagur Bolak dengan karyawan PT Bridgestone. Aksi yang semula merupakan tuntutan pengembalian lahan berubah menjadi kericuhan massal tak terkendali hingga menyebabkan puluhan kendaraan hangus dibakar dan sejumlah warga dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka.

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa massa mengamuk dan melakukan tindakan anarkis di area perkebunan. Akibatnya, sebanyak 27 unit sepeda motor dan 1 unit truk Fuso hangus menjadi arang. 

Tidak hanya kerugian materi, bentrokan fisik ini juga memakan korban jiwa. Beberapa warga dilaporkan mengalami luka-luka, bahkan beberapa di antaranya menderita luka tembak dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.

Kepala Desa Tinokkah, Rio Damanik, membenarkan adanya peristiwa mencekam tersebut saat dikonfirmasi oleh awak media pada Jumat (26/6). Menurut Rio, konflik agraria di wilayah tersebut sebenarnya merupakan masalah menahun yang sudah bergulir sejak puluhan tahun lalu.

"Konflik sengketa lahan ini sudah cukup berlangsung lama, sejak tahun 1998 saat lahan tersebut masih dipegang Hak Guna Usaha (HGU)-nya oleh PT Goodyear," ujar Rio Damanik.

Rio menjelaskan, setelah pengelolaan beralih ke PT Bridgestone, masa berlaku HGU lahan tersebut diketahui telah berakhir pada kisaran tahun 2022 atau 2023. Sejak saat itu, gelombang klaim atas lahan perkebunan tersebut terus bermunculan dari berbagai kelompok masyarakat tanpa ada penyelesaian yang konkret.

Sebelum insiden ini, sempat terjadi aksi penggarapan oleh kelompok Sorbajahe Nagatongah Sihora-hora (SNS) di atas lahan seluas 400 hektar. Di lokasi tersebut bahkan kini sudah berdiri ladang tanaman dan rumah-rumah permanen milik warga. 

Tak lama kemudian, muncul lagi kelompok masyarakat adat yang mengatasnamakan Tanah Ulayat untuk mengklaim lahan seluas 200 hektar.

"Nah, bentrok yang terakhir ini melibatkan kelompok Kerajaan Nagur Bolak. Mereka mengklaim wilayah yang sangat luas, mencapai 7.000 hektar, hingga akhirnya aksi mereka kemarin berujung keos dan anarkis," jelas Kades.

Lebih lanjut, Rio mengungkapkan bahwa massa yang terlibat bentrokan bukan sepenuhnya warga asli Desa Tinokkah. Meskipun sosok yang dituakan sebagai Raja Nagur Bolak berdomisili di Desa Tinokkah, sebagian besar massa aksi justru didatangkan dari luar desa. 

Terlebih lagi, objek lahan yang hendak digarap dan disengketakan sebenarnya berada di wilayah administratif Desa Nagur Pane dan Desa Parlambean.

Saat aksi berlangsung, jalannya unjuk rasa masyarakat Kerajaan Nagur Bolak sebenarnya mendapatkan pengawalan dari aparat Kepolisian Polres Tebing Tinggi. Namun, eskalasi emosional massa yang tinggi membuat situasi di lapangan mendadak tidak terkendali.

Sekaitan hal ini, pihak Polres Tebing Tinggi belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi mendetail, jumlah pasti korban luka, maupun tindakan hukum yang akan diambil pasca-kerusuhan komunal tersebut. Situasi di lokasi kejadian dilaporkan masih dijaga ketat oleh petugas guna mengantisipasi adanya bentrokan susulan. (hrp)


Komentar Anda

Terkini